Sunday, May 23, 2010

Free English Course to Students


Pendidikan merupakan hak yang mutlak dimiliki oleh setiap anak bangsa. Jangan biarkan kemiskinan merenggut hak anak kita untuk tidak memiliki kesempatan menikmati pendidikan di hidup mereka. Angka kemiskinan yang mencapai 14% pada tahun 2009 telah menghimpit anak-anak bangsa untuk terus bisa mengecap pendidikan yang notabene semakin mahal hari ini.

"Jangan pernah menyerah"... itu kata-kata yang selalu keluar dari para pendidik anak bangsa untuk terus meningkatkan semangat anak ditengah-tengah deraan gelombang sulitnya mendapatkan pendidikan yang layak.

Keterlibatan anak-anak muda didalam memberikan Pelajaran Bahasa Inggris secara cuma-cuma di suatu sekolah di Rawabokor telah menjadi hiburan tuk menghapus kesedihan hati melihat keadaan pendidikan anak bangsa hari ini.

Yang pasti, kita tidak pernah diam dan menonton saja terhadap apapun yang bisa menghambat dan menekan kesempatan buat anak bangsa di negeri ini. Mari lakukan apapun agar mereka bisa menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya seperti pasir di laut dan bintang di langit.

Ada satu hal yang tidak dapat hilang dari mereka yaitu pembelajaran hidup (school of life). Walau pembelajaran formal tidak menyentuh mereka namun pembelajaran dari hidup akan selalu menemani anak-anak bangsa kita. Memberi dukungan moral dan semangat juang yang tak pernah pudar akan membangun suatu generasi kuat bermodal dari pengalaman dan pembelajaran dari hidup ini.

Mari nak... berjuang terus...
Read More......

Thursday, September 3, 2009

Thousands of Indonesia Quake Refugees Still Wait for Much-Needed Assistance


Cianjur and Tasikmalaya. The fasting month took on an entirely different meaning for the thousands of people now homeless a day after a powerful quake struck the island of Java.

In Tasikmalaya district, West Java, the area nearest the epicenter of the 7.3-magnitude quake where nine people lost their lives, about 2,000 refugees woke on Thursday to instant noodles for their pre-dawn meal.

In neighboring Cianjur district, where a rock slide buried 57 residents of Cikangkareng village, more than 2,800 people spent the chilly night in makeshift tents of plastic sheets. As dusk fell, the village was engulfed in darkness save for two power generators that lit the shelter and rock slide area.


Darmadi, 43, a resident of Pamoyanan where the homeless from Cikangkareng are sheltered, recounted the horrific scene he had witnessed to visiting President Susilo Bambang Yudhoyono.

“When the tremor was at its hardest, the hill looked as if it was turned upside down,” he said. The hill he was talking about sent tons of rocks and boulders hurtling down onto a hamlet of 15 houses.

In Tasikmalaya and Cianjur, where most of the victims are, help did not take long to arrive. Aid agencies quickly assembled teams to provide the refugees with basic needs. For most of Thursday, convoys bearing supplies poured into the two areas worst hit by the disaster.

But the situation elsewhere was different. According to the Operation Control Center of the National Disaster Management Agency, the earthquake and resulting landslides had damaged almost 25,000 houses in 10 West Java districts and towns and the Central Java district of Cilacap.

In the village of Kawi Luar, one of the most devastated areas in Tasikmalaya, aid had yet to arrive and three makeshift tents continued to serve as home to as many as nine families each.

Despite lacking decent sanitation facilities, clean water or even an emergency kitchen, Ateng, the head of the village, told the Jakarta Globe that they preferred to stay there.

“We’ll remain in this shelter because we are so afraid to go home. We heard from the radio that there will still be aftershocks for one week, so we’re thinking it’s better to stay here,” he said. “We just collected money among ourselves for food. There’s no help at all from the government.”

In Sukasirna, Garut district, 50 people sheltered in a makeshift tent had to share two kilograms of rice left from the previous night for their pre-dawn meal, Tempo online said. No relief had reached them either.

Read More......

Baksos di Rawabokor - Jakarta


Menyambut bulan Ramadan 2009 ini, kami berkesempatan bersama dengan aktifis pemuda Rawabokor melakukan baksos bersama guna membantu warga setempat yang kurang mampu dengan menjual sembako murah, perawatan medis dan gigi serta hiburan anak-anak.

Hari Sabtu, tanggal 15 Agustus 2009, hadir Bapak Lurah Rawabokor dan menyampaikan kata sambutan meminta agar tetap menjaga kesatuan bangsa dan mewasdai setiap warga baru atas perkembangnya teroris yang terjadi belakangan ini. Beliau mensyukuri kegiatan-kegiatan positif seperti ini hendaknya terus dilakukan untuk membantu saudara-saudara kita yang masih berkekurangan. Hadir juga Ketua RT dan RW setempat serta pejabat DPRD untuk menyaksikan kegiatan dan warga yang bersiap-siap untuk membeli sembako murah maupun pelayanan medis dan gigi.

Dihadiri lebih kurang 200 warga dan 60 anak-anak memenuhi tenda tempat perawat
an medis dan gigi. Setelah menjual sembako murah, anak-anak tidak ketinggalan menikmati hiburan berupa beberapa permainan-permainan yang disiapkan. Walaupun peringatan Hari Kemerdekaan 2 hari lagi, namun keceriaan anak-anak seolah-olah tidak memperlihatkan sulitnya hidup ini. Itulah generasi yang perlu kita siapkan untuk memimpin bangsa.

Read More......

Wednesday, April 29, 2009

Social works in Kemayoran


Kami patut bersyukur memiliki kesempatan untuk sedikit berbagi tuk meringankan beban hidup saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Hari Sabtu, tanggal 18 April 2009, bersama beberapa teman dan tim medis, kami meluncur langsung ke lokasi dekat tol keluar di PRJ Kemayoran. Walau lokasi berada di pusat kota Jakarta, namun masih banyak saudara-saudara kita yang menantikan uluran tangan kita. Sungguh menggugah hati ini, melihat masih banyak yang membutuhkan ditengah kota Jakarta yang penuh dengan tantangan serta kemewahan, namun menyisahkan juga gubuk-gubuk yang sangat panas di waktu siang dan sangat dingin di waktu malam.


Menjual sembako murah adalah bagian utama program kedatangan kami. Senyum tawa para wanita tua, berkesan riang karena bisa menikmati beras berkualitas dengan harga 1/4 saja. Hiburan berupa beberapa permainan telah menghibur anak-anak kecil yang telah menunggu berjam-jam bahkan sebelum kami tiba... sungguh menyentuh...

Pengobatan murah hanya sebesar Rp.3000 per orang, diharapkan dapat membantu mereka yang kurang mampu untuk mendapat obat-obat yang layak tuk mengobati penyakit yang sudah tahunan tinggal di tubuh tua itu. Oh Tuhan, turunkan rahmatMu bagi saudara-saud
ara kami...

Teman, kita patut bersyukur, jika masih bisa berdiri dan menikmati hari-hari dengan kecukupan... walau dunia dilanda krisis namun sebagian kita masih bisa tertawa hari ke hari... bagaimana dengan mereka yang hidup tanpa atap dan tawa?


Pertanyakan diri kita, sudahkah kita berMAKNA bagi SESAMA?
Read More......

Sunday, March 29, 2009

Korban Kebakaran Tomang


THE VICTIM OF FIRE IN TOMANG,

Terimakasih buat teman-teman yang sudah berpartisipasi untuk meringankan beban yang ditanggung sahabat-sahabat kita. Walau kita mungkin tidak bisa membantu seluruh kehilangan mereka namun kehadiran dan perhatiaan kita telah menggugah hati mereka.

Hari minggu kemarin tanggal 29 Maret 2009, kami telah memberi bantuan berupa alat-alat tulis sekolah guna mengembalikan semangat anak-anak tuk segera ke sekolah dan meraih cita-cita.

Trauma masih mengejar sebagian besar korban, bahkan ada yang masih takut masak dan melihat api...

Ketika berada disana, kami melihat beberapa kebutuhan yang paling mendesak adalah bahan-bahan bangunan... rencana berikut selain menambah alat-alat tulis, kami sangat terbeban untuk mengirim batu bata dan semen. Jika penderitaan mereka mengetuk hati saudara, marilah kita Hidup Bermakna...

Foto, bisa dilihat di album FaceBook - hoatta sitia

********************************************************************

Thanks to you all who have participated in lightening the burden of our brothers. Though it is not enough to help the whole lost yet our presence and attention have arisen their spirit.

On last Sunday, March 29, 2009, we delivered some school appliances to encourage the children back to their school immediately and reach their dreams.

Traumatic experience has still thrilled most of victim, even some of them dare not to cook and see the fire…

When we were there, we saw some other urgent needs such as bricks and cement… the next plan is to also the bricks and cement besides the school appliances. If their suffer has touched your hearts, let be meaningful for others…

you can see some pictures at hoatta sitia's facebook album...
Read More......