Pada kesempatan liburan akhir tahun ini, aku dan keluarga bersyukur memiliki kesempatan mengunjungi kota Kupang. Sahabat lama telah menunggu hampir 1 jam di airport tuk menjemput, pesawat mendarat di kota kupang 1 jam terlambat. Rasa letih terhapuskan ketika dapat bertemu sahabat lama yang notabene sudah seperti saudara sendiri. Mobil sudah disiapkan dan akomodasi juga telah menanti di rumah mereka sebuah kamar khusus yang disiapkan bagi kami.
Perjalanan ke Kupang adalah pengalaman pertama kali sepanjang hidupku. Udara yang jauh dari polusi telah menggayuh rasa senang di hati, apalagi setelah melihat sekeliling kota yang masih hijau jauh dari hitamnya asap dan bisingnya kenalpot kendaraan bermotor. Kota yang masih asri dan patut tuk dihidupi demi mendapatkan hidup yang sehat dan umur yang panjang. Kedatangan kami yang bertepatan dengan perayaan Natal, menyisahkan kesepian di jalan-jalan setelah ditinggal kesibukan yang biasanya mengisi hari-hari di sini. Keadaan lengang tidak menurunkan kebahagianku, malah menambah semangat untuk berkeliling kota karena hal ini jarang ku dapati di Jakarta. Oh Kupang... you are so beautiful.
Melihat kehidupan yang begitu sederhana dan cukup jauh dari teknologi kota, namun keramahan dan kekuatan memiliki hubungan satu dengan yang lain telah memberikan makna yang berarti di hati ini. Memang kehidupan kota besar yang penuh dengan kecanggihan teknologi dan pikiran manusia tidak selalu dapat dikatakan melebihi kehidupan kota kecil seperti Kupang. Rasanya hidup bermakna bagi sesama tidak dapat dibatasi oleh ukuran kota dan kecerdasan manusia yang hidup didalamnya. HIKMA dapat terjadi dimana-mana...
Pagi tadi, kami meninggalkan kota Kupang menuju kabupaten Soe tuk melihat keindahan alam dan juga kehidupan saudara-saudara kita di sana. Aku pernah mendengar bahwa banyak sesama kita yang kekurangan gizi karena kemiskinan yang telah merampas hak hidup mereka sebagai warga Indonesia yang juga layak hidup sehat. Ketika memasuki satu desa, sungguh sangat sederhana bahkan dapat dikatakan miskin, masih banyak rumah-rumah asli yang beratapkan daun dan bertembokkan ranting di kanan kiri jalan. Kebanyakan mereka hidup dengan bertani demi tuk melangsungkan nafas dan melihat anak-anak tetap tumbuh dewasa. Namun kenyataannya, mereka hanya mampu membeli putak (sagu) sebagai pengganti beras dan jagung untuk makan sehari-hari. Jelas buruk gizi terus menghantui kehidupan mereka karena putak hanya layak dikonsumsi oleh babi atau sejenis.
Ya Tuhan... apa yang dapat ku perbuat? Anak-anak yang berlari dengan kaki telanjang namun tidak jelas arah tujuan hidup mereka tetap kelihatan gembira ditengah rintik-rintik hujan siang ini. Hidup mereka hanya hari ini, tidak lebih... makan saja cukup, mengapa memikirkan esok hari? Hidup bermakna bagi sesama kembali mengelitik hati ini, satu hal yang sederhana tuk dimulai... berikan susu yang cukup gizi untuk mengganti gizi yang tidak pernah kunjung didapati dari putak.
Mari membuka hati, menoleh sejenak dan pertanyakan tentang HIKMA kita...
Jika rekan-rekan siap berHIKMA, jangan sungkan untuk memulai!
anak hilang
-
Dari: Evi.KristiantiSantoso@kalbe.co.id
Topik: ANAK HILANG ... sebarkan email ini.. semoga membantu...]
Tanggal: Kamis, 16 April, 2009, 7:59 AM
Tolong e...
17 years ago

No comments:
Post a Comment